Hahahaha... ane udah kasih warning diawal bakalan banyak kentang. Ane akuin idenya ane contek dari cerpan bahasa inggris tapi ane modif. Ane coba bagi karena ane pikir ada konflik drama cukup bagus gak sekedar bang bang crot ah, dan juga ceritanya cukup realistis, gak menggurui dan gak terlalu panjang.
Sorry ane ngetiknya lambat n banyak typo. Anyway ini ada tambahan kentang lagi dikit: :beer:
***
Baja dingin meluncur di bawah baju Nina dan dengan mata pisau menghadap ke atas, dan mulai memotong dengan perlahan kain baju Nina dari bawah, baju itu tersayat terbelah, mengungkapkan perut Nina yang rata dan langsing, bergerak naik turun dengan cepat. Dengan napasnya yang memburu..
"Mmmmm, bra merah, aku suka, memang warna yang menggoda seperti pelacur."
Pisau logam dingin meluncur turun di tubuh Nina dengan kecepatan yang luar biasa lambat. Nina sangat ingin berjuang dan melawan, untuk melawan, tapi dia terlalu takut bahkan gerakan sekecil apa pun pun akan menyebabkan logam tajam itu mengiris kulit putih mulus halusnya. Jadi Nina tetap berusaha menahan diam tak bergerak dengan tegang, menggigil. Menunggu setiap potongan pakaian yang menutupi tubuhnya tersayat tanpa ampun, hancur dan dibuang.
Nina merasakan pisau itu menelusuri di antara kedua pahanya, logam dingin itu sampaii di sisi dalam selangkangannya, lalu menyusup ujung celah celana dalam merahnya dan mulai mengiris perlahan.
Nina mengertakkan gigi saat tubuhnya gemetar, mencoba menutupi ketakutan dan rasa malunya ditelanjangi di samping Lisa yang terus terpaksa melihat..
Nina menoleh ke samping, wajahnya tampak kosong pucat saat dia pasrah membiarkan dan berharap ini akan segera berakhir.
Lisa benar-benar takut terisak-isak saat dia dengan ngeri melihat Laki-laki ini memposisikan batang penis kerasnya di antara sela-sela selangkangan paha putih mulus sahabatnya. Lisa menggigil saat memikirkan bagaimana rasanya pertama kali ditusuk oleh makhluk seperti itu.
"Apakah Kamu siap untuk melihat aku memperkosa teman kamu ini Lisa? ….Kamu akan menjadi gadis suci yang baik dan meminta aku untuk memperkosa sahabatmu?"
Air mata mengalir deras di wajah Lisa saat dia menoleh pada penyerang mereka, matanya penuh dengan ketakutan, dan dia tidak dapat memikirkan apapun untuk menjawab.
"Ayo sekarang, mintalah aku untuk segera melakukan pemerkosaan pada temanmu ini."
Nina memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya. "Aku mohon ... kenapa kamu melakukan ini pada kami? Cukup hentikan, tolong!"
Laki-laki itu tertawa, pelan dan sadis.
"Hahaha….Ini masih sangat jauh dari cukup buatku. Ini baru awal dan masih sangat lama sampai aku akan merasa cukup puas menikmati kalian. Berusahalah membuatku merasa nikmat dan puas Nina. Aku tidak perlu memberi tahu kamu apa yang akan terjadi jika kamu ternyata tidak bisa memberi kenikmatan yang aku inginkan”
Lisa menggelengkan kepalanya dengan panik, memohon, "Tolong ... tolong jangan, ..."
Kata-kata Lisa tiba-tiba terputus saat dia melihat dengan ngeri teangan leaki-laki itu meraih celana dalam birunya, secarik kain terakhir yang menempul di tubuhnya, dan dia merenggut celana dalam itu dengan hentakan kasar hingga robek terlepas dari tubuhnya.
Lisa mulai menjerit panik saat lelaki itu pindah di antara kedua kakinya, membuka mengangkangkan pahanya dan mulai menggosok kepala penis kerasnya di belahan kemaluan kecilnya, mengolesi pre-cum bening licin yang keluar lubang penisnya.
"OH TIDAK, TIDAK JANGAN AMPUN STOP! BERHENTI, JANGAN PERKOSA AKU! SILAHKAN PERKOSA TEMANKU SAJA!"
Laki-laki itu berhenti tepat di gerbang kecil tubuhnya, nyaris tidak mampu menahan diri untuk tidak menyodok mendobrak dan merobeknya terbuka, saat dia menunduk menatap wajah Lisa. "Diam dan pernah jangan ganggu saat aku ingin menikmati mangsaku …Percayalah padaku, cam kan baik-baik."
Lisa, benar-benar hancur sekarang, bersedia melakukan apa pun untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari ketakutan atas apa akan segera menimpanya.
"Baiklah ... oke ... tolong, tolong pak, tolong perkosa teman aku saja, jangann aku, dia pelacur dan dia pasti akan bisa memuaskan bapak, mohon perkosaan dia saja, aku perawan bodoh dan bisa memuaskan, tolong, tolong dia saja, tolong pak .. "
Senyuman puas muncul di wajah laki-laki itu saat dia membiarkan Lisa mengoceh beberapa saat lagi, membiarkan suaranya memenuhi ruangan, dan Nina yang sekarang mulai terisak tak terkendali mendengar kata-kata menyakitkan yang dia dengar dari mulut Lisa sahabatnya yang sudah berusaha ia selamatkan.
Laki-laki itu selesai bermain-main dan sudah tak sabar menyalurkan nafsu birahinya yang sudah mendidih menggelegak. Dengan cepat dia bergerak kembali di antara paha Nina, mengesekan ujung penis kerasnya untik menguakkan lipatan belahan kemaluan Nina menemukan liang sempitnya, dan dengan keras mendorong memaksa, meyesakkan penis kerasnya masuk
"OOOOOWWWW! OWWW .... OWWW ....ADUHH ... Ampun… sakit Pak...pelan-pelan" erang Nina
Lelaki itu hanya terkekeh mendengar dan langsung asik menyodok-nyodokkan batang kerasnya masuk dan keluar di tubuh tak berdaya Nina dengan paksa, menikmati ketatnya cengkaram liang sempit vagina Nina saat mengesek penisa sepanjang lorong keluar sebelum menghujamkannya jauh ke dalam tubuh Nina lagi …dan lagi. Lelaki itu tersenyum menatap ekspresi wajah ketakutan Lisa yang terpaksa terus melihat dengan ngeri dan jijik vagina Nina teus dipompa ditusuk-tusuk berulang- ulang dengan batang penis si lelaki.
"Ya, benar Lisa, terus perhatikan baik-baik, lihat betapa mudahnya aku memaksa penisku yang keras masuk ke tubuh sahabatmu ini. Memek temanmu ini masih sangat sempit seperti perawan.. Tunggu saja Lisa nanti akan aku bandingkan dengan memek perawan kami "
"Apa?!! ... Tidak! ... Kamu sudah berjanji!!... tidak jangan!" rintih Lisa
"Aku tidak pernah menjanjikan apapun, itu tergantung pada apakah teman kamu ini bisa memberikan kenikmatan dan memuaskan aku memuaskan aku atau tidak….. hahaha …untuk sementara ini kamu harus bersyukur karena aku sangat suka rasa nikmat memek temammu ini …tapi kita lihat saja bagaimana nanti….”
"Oh tidak .... jangan ... tolong jangan lakukan itu ... tolong ..." Lisa berpaling ke Nina,. "Tolong Nin, tolong jangan biarkan dia menyakitiku, ..... tolong puaskan dia!!!."
Nina menatap dingin pada sahabatnya, Nina begitu membenci keegoisan Lisa, karena sudah berani meminta jauh melebihi dari apa yang sanggup ia lakukan. Nina ingin mengatakan kepada Lisa bahwa dia sudah melakukan semua yang dia bisa, tapi dia tidak berani dan hanya memejamkan mata dan tetap diam pasrah menahan rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"Ya, sahabatmu ini memang benar, Kamu perlu memuaskan aku Nina ….jika kamu memang tidak ingin aku bosan dan pindah mencicipi tubuh perawan Lisa…. Hahaha."
Entah berapa lama laki-laki itu terus asik menikmati memacu hentakan enjotan kasar diatas tubuh pasrah Nina, setiap detik terasa begitu panjang bagi ke dua gadis bersahabat itu.
Sampai tiba-tiba dia menarik penisnya keluar dari vagina Nina dan mengalihkan perhatiannya kembali ke Lisa.
Lelaki itu mengangkangi wajah Lisa sehingga penisnya yang basah dan berkilau mengacung tepat dihadapan Lisa., Lisa bisa mencium bau aroma cairan vagina sahabatnya di batang basang itu.
"Gadis gaul kota metropolitan seperti kami kamu pasti setidaknya tahu bagaimana mengisap penis Laki-laki, bukan? Aku yakin kamu pasti paling tidak pernah melakukan itu? Sekarang cepat hisap penisku!"
"APA? TIDAK! Tolong tidak, tolong jangan dia saja." Rengek Lisa histeris
Laki-laki itu menyeringai padanya lagi. "Nina sudah melakukan banyak hal untuk kamu Lisa dan dia juga tidak akan aku izinkan membantu kamu saat ini. Sekarang buka mulutmu dan sedot aku dengan benar."
***

CONVERSATION